6.5.10

Makna Sebuah Titipan

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,bahwa :
sesungguhnya ini hanya titipan,

bahwa mobilku hanya titipan Allah
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku,apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?

Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan
bahwa itu adalah derita.

Ketika aku berdoa,kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,

dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.

Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”

~WS Rendra~

----------------------------

Ya, semua di dunia ini yang kita punya hanya titipan.
Kapanpun Allah mau, dia bisa ambil semua yang sudah dititipkan ke kita.
Orang tua, suami, istri, harta, anak, teman, kepintaran, ingatan,gaji yang besar...
semua bisa hilang kapan saja..

Siapakah kita yang merasa berhak untuk "sombong" dan berpikir kalau kita lah orang yang paling layak untuk menerima semua titipan tersebut diatas?
Siapakah kita yang merasa bahwa dengan menerima semua (yang hanya) titipan tersebut, berarti kita lebih layak daripada orang lain?
Bahwa kita lebih baik daripada orang lain?
Bahwa kita bangga kalau kita mendapat titipan itu dan orang lain tidak?

Apakah orang yang kaya raya boleh meng-klaim bahwa dia begitu baik sehingga di mata Allah dia lebih berhak kaya dibandingkan pengemis di pinggir jalan?
Apakah pengemis itu ternyata orang yang sangat jahat sehingga dia diberi penderitaan?
Apakah orang yang pintar bisa mengklaim bahwa hati dia begitu suci nya sehingga di mata Allah dia lebih berhak menjadi pintar dibandingkan orang yang terbelakang?

Selama ini sudah beragam kehidupan dan karakter orang yang pernah saya lihat..

Ada keluarga yang kaya nya ampun-ampunan, tapi sikapnya jahat sekali ke orang-orang..
tapi ada juga keluarga yang kaya raya tapi sekeluarga rendah hati dan baik hati ke orang-orang..
Ada orang yang sangat pintar tapi pelit berbagi ilmu..
Ada orang yang sangat pintar tapi dia rendah hati dan tidak segan membagi ilmunya..
Ada orang yang gaji pas-pas-an..tapi gaya selangit..
Ada orang yang gaji nya luar biasa besar, tapi justru rendah hati dan tidak koar-koar...

Kemarin saya nonton Oprah..
Ada seorang anak dari seorang serial killer di wawancara.. Ayahnya sudah membunuh 8 orang dan sama sekali tidak merasa bersalah, malah ketawa-ketawa..
Tapi ada juga pasangan suami istri yang sangat baik tidak mampu mempunyai anak, kemudian mengadopsi anak yang kurang mampu..
Apakah serial killer itu lebih baik daripada suami istri tersebut sehingga dia yang dikaruniai anak?

Siapa sih kita yang merasa paling berhak untuk sombong?
Kadang orang lupa kalau hal-hal yang baik itu kadang juga merupakan ujian..
Kadang orang lupa kalau hal-hal yang (terlihat) jelek itu justru mungkin sebuah kesempatan.

Kesempatan?
Iya, kesempatan.

Ada orang yang ga suka sama kita dan menjelek-jelekan kita, itu bisa jadi kesempatan kita untuk mengurangi dosa dan nambah pahala.
Tapi di sisi lain, mungkin kita juga harus introspeksi.
Jangan-jangan kita memang seperti yang dituduhkan itu..
Bisa menjadi kesempatan untuk jadi orang yang lebih baik..
Tiba-tiba dipecat dari kerjaan?
Bisa jadi kesempatan untuk memiliki waktu lebih bersama keluarga,
Bisa jadi kesempatan untuk menikmati "liburan" sementara..

Untuk saat ini,
Hargai semua titipan yang dikasih ke kita..
bersyukur aja..
Karena tidak semua orang seberuntung kita..
Tapi kalau kita sombong dengan titipan tersebut,
dan merasa berhak untuk menyakiti orang lain,
jangan lupa...
Kalau itu semua cuma titipan..
Bisa hilang kapan saja..

Singapore, 6 May 2010.

A note and reminder to self..
Untuk tidak menjadi sombong,
Untuk selalu ingat kalau di atas langit masih ada langit..
Untuk tidak menyakiti orang lain..

11 Letters:

Arman said...

nice writing...
bener2 menusuk sanubariku.. hehe.

.Dinda. said...

@Arman: thanks man..puisinya Rendra emang bagus banget ya..

gajah manis&baik hati said...

Very well written..thanks for reminding us all

Shoumie said...

Hi Dinda, nicee writingss! aku suka suka.. keep it up yah :)

.Dinda. said...

@Mira & Shoumie: thank you..it's also a reminder for me too :D

windiamulia said...

Aku setuju banget..semua hanya 'lah titipan. Salute bwt kamu. Btw aku bole copas gak yg puisinya? Thanks yaa :)

.Dinda. said...

@Windia: boleh banget, itu puisinya WS Rendra kok, bukan punya ku hehehe..

tya said...

bagus bgd din...aku cop pas di blog ku yah...ALL! :)
thank u...

.Dinda. said...

@Tya: thanks ti..monggo :)

Asti & Ivan said...

dindaa...merinding bacanya..nice poetry to from ws rendra..very nice!semoga jadi bahan renungan buat semuanya...

.Dinda. said...

@Asti: thank you asti.. :)